Sebuah ancaman dari bisnis besar narkotika di Sumatera Utara

Sumatera Utara kini menjadi pasar narkotika terbesar kedua di Indonesia. Hampir menyamai Jakarta, kondisi itu telah menjadi ancaman bagi masyarakat di sana. Selain kematian yang disebabkan langsung oleh obat terlarang itu, infeksi penyakit pun menghantui para pengguna zat laknat itu.

Editor Foto :
Sebuah ancaman dari bisnis besar narkotika di Sumatera Utara
Sutanta Aditya

MELAWAN VIRUS | Selama belasan tahun, heroin sudah akrab dengan Dicky. Mudahnya pria yang kini berusia 34 tahun itu mendapat barang haram itu dan juga perilaku penggunaan zat laknat tersebut membuat ia kini harus jatuh bangun melawan virus HIV/AIDS yang sudah sepuluh tahun menggerogotinya kesehatannya.


Sebuah ancaman dari bisnis besar narkotika di Sumatera Utara
Sutanta Aditya

VONIS | Hidup di jalanan kota Medan, Sumatera Utara, Dicky tak sulit mendapatkan barang laknat. Ketika divonis menderita HIV/AIDS, Dicky memutuskan untuk tak lagi menggunakan heroin dan ia pun berupaya mengalihkan kecanduannya kepada barang haram itu.


Sebuah ancaman dari bisnis besar narkotika di Sumatera Utara
Sutanta Aditya

PENGGUNA NARKOBA | Di bawah DKI Jakarta, Sumatra Utara kini menduduki peringkat kedua sebagai provinsi dengan pengguna narkoba terbanyak di Indonesia. Kondisi itu membuat Sumatera Utara harus bersiap menerima ledakan kasus HIV/AID baru di tahun-tahun ke depannya.


Sebuah ancaman dari bisnis besar narkotika di Sumatera Utara
Sutanta Aditya

DATA PENDERITA | Berdasarkan data yang telah terpublikasi, angka prevalensi HIV/AIDS di Sumatera Utara mencapai 28,97 per 100.000 penduduk. Artinya, setiap 100.000 penduduk provinsi itu terdapat 29 orang mengidap HIV/AIDS sehingga semua pihak perlu aktif dalam upaya menanggulangi.


Sebuah ancaman dari bisnis besar narkotika di Sumatera Utara
Sutanta Aditya

SAKIT | Berjuang sendiri, saat ini kondisi kesehatan Dicky semakin melemah. Lepas dari kehidupan jungkie, Dicky tak bisa melupakan sejarah pahitnya, dan ia pun kerap mengutuk serta menyesali jalan yang dipilihnya. Rabu (28/11/2018), ia memberitahukan bahwa dirinya sedang sakit-sakitan .


Sebuah ancaman dari bisnis besar narkotika di Sumatera Utara
Sutanta Aditya

TERAPI | Berupaya memutus sugesti akibat penggunaan heroin selama ini, Dicky mengikuti terapi Metadon di sebuah klinik. Ia pun tak memiliki harapan besar karena hidupnya tengah menunggu ajal.


Sebuah ancaman dari bisnis besar narkotika di Sumatera Utara
Sutanta Aditya

BERJUANG | Selain bergelut dengan HIV/AIDS, Dicky juga harus berjuang melawan stigma dari masyarakat dan juga keluarganya sendiri. Dua tahun ini Dicky menghabiskan waktunya dengan beribadah. Kepada Tuhan YME ia meminta agar sisa hidupnya dilimpahi banyak kemudahan.


Sebuah ancaman dari bisnis besar narkotika di Sumatera Utara
Sutanta Aditya

KASUS | Nasib Dicky hanyalah satu diantara banyak kasus pecandu narkoba yang terpapar oleh HIV/AIDS. Dari catatan Badan Narkotika Nasional, saat ini ada sekitar 2,2 persen dari 262 juta penduduk Indonesia yang menggunakan narkoba. Dalam sehari, ada 37 hingga 40 orang meninggal sia-sia karena penyakit yang ditimbulkan oleh zat laknat itu.


Sebuah ancaman dari bisnis besar narkotika di Sumatera Utara
Sutanta Aditya

INFORMASI | Untuk mencegah bertambahnya penderita HIV/AIDS di Sumatera Utara, peran serta pemerintah dan masyarakat amat dibutuhkan. Dari mulai memberi informasi secara benar bagaimana penularan HIV/AIDS dilakukan, penghapusan stigma pun dirasa dapat membantu mencegah penyebaran penyakit itu yang kini terus tumbuh di Sumatera Utara. Dan perdagangan obat terlarang di provinsi itu pun harus menjadi fokus utama.


FOTO LAINNYA