Titik Cerah di Pondok Pesantren Waria

Di awal Ramadan 1438 H, Pondok Pesantren Waria Al Fatah yang berdiri pada 2008 silam memulai kembali lembaran barunya sebagai telaga ilmu bagi kaum transgender di kota Yogyakarta. Di pesantren yang berada di kawasan Kotagede itu kini mereka belajar, dan memperbanyak ibadah sebagai bekal di kehidupan akhirat kelak.

Editor Foto :
Titik Cerah di Pondok Pesantren Waria
Reza Fitrianto

PESANTREN WARIA | Semangat Shinta Ratri belajar Islam tak pernah padam meski kisah getir pernah dialaminya pada 2016 lalu. Kala itu, Pondok Pesantren Al-Fatah yang dipimpinnya ditutup paksa oleh sekelompok orang yang tak senang dengan keberadaan pesantren yang santrinya adalah kaum transgender.


Titik Cerah di Pondok Pesantren Waria
Reza Fitrianto

HAK BERAGAMA | Berada di kawasan Kotagede, Yogyakarta, pesantren itu kembali aktif mengasuh santri-santrinya yang kebanyakan adalah waria. Didirikan atas gagasan KH. Hamrolie Harun pada 2008 lalu, pesantren ini awalnya dipimpin oleh Maryani, seorang waria yang berpikiran bahwa hak beragama sejatinya adalah milik setiap insan manusia, termasuk waria.


Titik Cerah di Pondok Pesantren Waria
Reza Fitrianto

KAJIAN | Saat ini, pesantren yang dipimpin oleh Shinta Ratri dihuni oleh 20 waria yang berasal dari sekitaran Yogyakarta. Dibimbing oleh Ustad Arif Nuh Safri, para santri serius mengkaji kitab fiqih dan hadist. Selain itu mereka pun kerap siraman rohani yang menjadi bekal hidup di dunia.


Titik Cerah di Pondok Pesantren Waria
Reza Fitrianto

EKSISTENSI | Shinta Ratri berkisah bahwa tekanan pada pesantren yang kini dipimpinnya sudah terjadi sejak meninggalnya KH. Hamrolie Harun dan Mariyani pada 2013. Silih berganti cobaan kerap datang menguji eksistensi pesantren waria dalam perjalanannya.



Titik Cerah di Pondok Pesantren Waria
Reza Fitrianto

KODRAT | Bagi banyak waria yang mondok di Pesantren Al Fatah, keputusan menjadi waria atau transgender bukanlah kehendak mereka pribadi semata. Kebanyakan mereka sudah sejak kecil merasakan bahwa sifat feminis telah melekat lama dalam dirinya. Dan mereka beranggapan bahwa kondisi itu merupakan kodrat yang harus mereka jalani.


Titik Cerah di Pondok Pesantren Waria
Reza Fitrianto

IBADAH | Ketika pewarta foto Reza Fitriyanto mengunjungi Pesantren Al Fatah pada Selasa (30/5/2017), sebuah pemandangan menarik tampak tatkala para santri menjalankan ibadah shalat Magrib. Banyak di antara waria yang menjadi santri di sana lebih memilih menjadi laki-laki "sementara" ketika menjalankan shalat, dan kemudian mereka kembali ke wujud semula sebagai waria saat usai menjalankan ibadah wajibnya.


Titik Cerah di Pondok Pesantren Waria
Reza Fitrianto

DIHORMATI | Para santri di Pesantren Al Fatah percaya, bahwa di mata Allah SWT, keberadaan mereka sama dengan manusia lainnya. Dan harapan mereka, kelak suatu saat hak mereka sebagai manusia dihormati oleh masyarakat luas tanpa melihat bentuk dan label yang melekat pada diri seorang waria.


FOTO LAINNYA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR