Yang tertatih melawan zaman

Di atas aspal kota Yogyakarta, bunyi andong adalah irama khas. Tapi kini irama itu mulai tergilas oleh modernitas. Andong yang sempat berjaya dan menjadi penghias kota itu pun perlahan hilang, dan yang tersisa terseok melaju melawan zaman.
Editor Foto :
Yang tertatih melawan zaman
Anggertimur Lanang Tinarbuko

ROMANTISME | Derap langkah kaki kuda dan berputarnya roda andong di jalan beraspal Yogyakarta adalah bagian dari romantisme kota yang tak bisa dipisahkan. Derap langkah dan teriakan kusir kini perlahan menghilang, tergeser oleh ramai ribuan kendaraan yang lalu lalang memenuhi jalanan.


Yang tertatih melawan zaman
Anggertimur Lanang Tinarbuko

KUSIR | Paiman dan Temu (kanan) adalah kusir andong yang kerap melaju di jalanan kota Yogyakarta. Namun sayang, karena stroke Temu tak lagi bisa membawa andongnya. Kini ia digantikan oleh Paiman, saudaranya yang saban musim wisata meluncur dari kawasan Sabdodadi, Bantul menuju pusat kota Yogyakarta.


Yang tertatih melawan zaman
Anggertimur Lanang Tinarbuko

JALANAN | Di Alun-alun Keraton Yogyakarta, Paiman memacu Tentrem di tengah jalanan yang ramaioleh deru mesin. Mengadu nasib, Paiman dituntut lihai mengendarai kudanya. Tak seperti dulu, andong kini dianggap sebagai alat transportasi kuno, keberadaannya tertandingi oleh becak-becak yang tenaganya telah beralih rupa menjadi mesin bermotor.


Yang tertatih melawan zaman
Anggertimur Lanang Tinarbuko

ANDONG | Sebelum menjadi alat transportasi masyarakat di Yogyakarta, andong adalah simbol status priyayi. Kini kereta yang ditarik kuda itu telah dijadikan komoditas wisata yang peruntungannya pun tak lagi seramai beberapa tahun ke belakang.


Yang tertatih melawan zaman
Anggertimur Lanang Tinarbuko

RAWAT | Semenjak stroke, Temu tak lagi merawat Tentrem dengan tangannya. Padahal dulu, Tentrem adalah kebanggaan yang tak pernah ia lepas dari tangannya. Kepada Paiman kini Tentrem dipercayakan, dari mulai mandi hingga memijat tubuhnya agar tetap bugar dan bisa menjadi sumber penghidupan.


Yang tertatih melawan zaman
Anggertimur Lanang Tinarbuko

WAKTU KERJA | Pergeseran fungsi andong mempengaruhi waktu kerja Tentrem dan Paiman. Berharap berkah dari dunia pariwisata, Paiman dan Tentrem hanya bekerja di hari Sabtu dan Minggu saja.


Yang tertatih melawan zaman
Anggertimur Lanang Tinarbuko

PENDAPATAN | Biaya operasional untuk memberi makan kuda, serta merawat andong tak sebanding dengan pemasukan, itulah yang menjadi masalah para pemilik andong di Yogyakarta. Pendapatan yang kerap tak sesuai dengan harapan biasanya hanya dapat menjadi modal hidup pemilik dan kusir saja, sementara kuda-kuda penarik andong banyak yang menderita.


Yang tertatih melawan zaman
Anggertimur Lanang Tinarbuko

KEBANGGAAN TEMU | Temu dikenal sebagai kusir andong kesayangan adik Sri Sultan HB X, GBPH Yudhaningrat. Selain pernah dipercaya mengendarai koleksi kereta kuda dan kereta kencana milik KGPH Yudhaningrat untuk acara-acara penting kerajaan, ia juga pernah diminta menjadi kusir, kereta untuk Sri Sultan Hamengkubuwono X, tentu saja itu menjadi kebanggaannya.


Yang tertatih melawan zaman
Anggertimur Lanang Tinarbuko

DUKA | Banyak cerita duka dari para kusir andong di Yogyakarta. Banyak dari mereka terpaksa harus menggadai kudanya demi mencukupi kebutuhan keluarga. Itu terjadi pada Temu yang namanya cukup dikenal oleh para kusir andong. Untuk mengobati strokenya, ia pun menggadai kudanya.


Yang tertatih melawan zaman
Anggertimur Lanang Tinarbuko

KEBANGGAAN | Meski untuk mempertahankan andong teramat sulit, para kusir dan pemilik kereta kuda di Yogyakarta berupaya keras menjadikan transportasi budaya itu tetap ada. Mereka sadar itulah warisan budaya, dan dengan segenap daya mereka memilih akan mempertahankan apa yang mereka anggap sebagai sebuah kebanggaan.


FOTO LAINNYA
Tanya Loper Tanya LOPER
Artikel terkait: SPONSOR