Seksualitas bukan topik basi. Terutama jika menyinggung 'kejantanan' laki-laki. Simak saja lagu Madura ini: Tot toli tot tot kaceperra jen onjenan, Pak Ali sake’to’ot pellerra jen onjenan (Tot toli tot tot, buah kecipir bergoyang-goyang. Walau dengkul Pak Ali nyeri, ’burungnya’ menggeliat terus).

Pasar obat kuat pun selalu "menggeliat". Baik untuk produk resmi, atau ilegal. Untuk yang disebut terakhir, tak sedikit korban jatuh akibat konsumsi berlebihan. 

Indonesia merekam hasil kearifan lokal pada ranah obat seks ini. Bahkan, ada daerah yang punya folklor kuat akannya. Bone bisa jadi contoh. Di sana, terdapat legenda bolong sanrego. Siapa pun menenggak ramuan dari tanaman itu, niscaya berkekuatan bak kuda, si subjek folklor dimaksud.

Sanrego, punya nama latin Lunasia amara, endemik Bone. Beberapa tumbuhan lain dalam edisi Ramuan Ajib ini pun punya sifat endemik: akway (Drimys sp.), pasak bumi (Eurycoma longifolia), purwaceng (Pimpinella pruatjan). Tanaman-tanaman itu dipakai oleh pengusaha jamu seperti Nova Dewi, pemilik Suwe Ora Jamu. 

Namun, meski populer tanaman berkhasiat obat mesti dimanfaatkan secara hati-hati. Setidaknya, itu kata Guru Besar Farmakologi dan Terapeutik Universitas Indonesia, Armen Muchtar. Banyak obat herbal belum teruji secara klinis, ujarnya kepada Koran Tempo pada 2009, dan "uji klinis harusnya dilakukan secara blinding, random, pembuktiannya tidak hanya satu, diuji pada orang sakit, dan juga dites dengan plasebo". 

Jack Turner dalam buku "Spice: A History of Temptation"--tepatnya dalam bab bertajuk wagu "How to Make A Small Penis Splendid", atau "Cara Bikin Penis Kecil Punya Kualitas Jawara"--berasumsi bahwa efek afrodisiak dari tanaman hanya muncul di kepala. Pendeknya: daya tahan atawa endurance murni psikologis, bukan jasmani.

Tapi, apa betul begitu? Pandangan antropolog Jajang Gunawijaya dan pengusaha jamu Jaya Suprana dalam edisi khusus ini mungkin dapat menawarkan cakrawala baru. 

Ajib!    

Penanggung Jawab: Yusro M Santoso

Kepala Proyek: Bonardo Maulana Wahono

Penulis: Andi Baso Djaya, Bonardo Maulana Wahono, Fajar W.H., Heru Triyono, Muammar Fikrie, Sorta Tobing

Penyumbang Bahan: Anang Zakaria (Yogyakarta), Rahmat Hardiansya (Sulawesi Selatan), Aris Munandar (Kalimantan Barat), Musthofa (Madura), Mei Leandha (Medan)

Fotografer: Bismo Agung Sukarno, Wisnu Agung Prasetyo, Fully Syafi (Madura), Hariandi Hafid (Sulawesi Selatan), Jessica Wuisang (Kalimantan Barat), Andri Ginting (Medan)

Penata Letak Foto: Bismo Agung Sukarno, Sandy Nurdianysah

Videografer: Bismo Agung Sukarno, Wisnu Agung Prasetyo

Editor Video: Aditya Nugraha

Kartun: Tito Sigilipoe

Tim Produk: Abraham Angela Handayani, Andre Pratama Adiwijaya, Aldi Nugroho, Erwin Susilo, Febyola Aldo Brilyansyah, Prisca Prisilia, Trio Putra Candra Buwana