Ilustrasi Image Ilustrasi Image

Setelah menanti selama 56 tahun, Indonesia kembali dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan Asian Games. Kompetisi olahraga terbesar di Benua Asia itu akan berlangsung pada 18 Agustus-2 September di Jakarta dan Palembang, Sumatra Selatan.

Ribuan atlet dari 45 negara akan bertarung untuk menjadi yang terbaik dalam 462 nomor dari 40 cabang olahraga yang dipertandingkan.

Indonesia sebenarnya bukan pilihan pertama Dewan Olimpiade Asia (OCA) untuk Asian Games ke-18 ini. Ada tiga kota yang pada awalnya mencalonkan diri, yaitu Hanoi, Vietnam; Surabaya, Indonesia; dan Dubai, Uni Emirat Arab.

Singkat cerita, Hanoi menang tapi kemudian mengalami masalah sehingga memutuskan mundur pada 17 April 2014. Surabaya, yang harusnya jadi pengganti, juga mundur.

Akhirnya, setelah rapat OCA pada 25 Juli 2014, Jakarta ditunjuk sebagai tuan rumah, didampingi Palembang.

Kedua kota itupun bergegas untuk menata diri guna menjadi tuan rumah ajang empat tahunan itu. Berbagai perbaikan dan pembangunan dilakukan. Mulai dari arena pertandingan hingga infrastruktur penunjang, seperti jalan, wisma atlet, hingga sarana transportasi.

Biaya persiapan di kedua kota tersebut diperkirakan mencapai total Rp30 triliun. Tak sedikit memang, tetapi infrastruktur yang dibangun dijamin bisa digunakan hingga bertahun-tahun kemudian.

Selain menyiapkan infrastruktur pertandingan berkelas dunia dan melayani para tamu dengan baik, ada misi besar lain yang diusung kontingen Indonesia--mencapai prestasi yang lebih baik.

Sejak mengikuti Asian Games pada 1951, prestasi terbaik Indonesia dicapai ketika menjadi tuan rumah pada 1962. Saat itu 11 medali emas, 10 perak, dan 28 perunggu berhasil direbut dan Indonesia menempati peringkat kedua di bawah Jepang.

Namun kemudian persaingan olahraga di Benua Asia semakin ketat. Apalagi setelah Tiongkok mulai masuk gelanggang pada 1974.

Kontingen Garuda tertinggal dan 11 emas pada 1962 itu belum pernah disamai lagi. Paling dekat 8 emas di Bangkok 1978.

Kini, bertanding di rumah sendiri, pemerintah pasang target untuk masuk 10 besar. Tidak terlalu muluk, tetapi tetap sulit.

Pada penyelenggaraan Asian Games ke-17 di Incheon, Korea Selatan, Indonesia hanya membawa pulang 4 emas, 5 perak, dan 11 perunggu. Sementara peringkat 10 saat itu, Qatar, mengumpulkan 10 emas dan 4 perunggu.

Jika hasil itu jadi patokan, Indonesia membutuhkan minimal  10 emas untuk mencapai target.

Menilik prestasi atlet-atlet Indonesia dalam cabang-cabang olahraga Olimpiade belakangan ini, sepertinya masih sulit bagi mereka untuk bisa berbicara banyak. Peluang terbesar diperkirakan ada pada bulu tangkis, angkat besi, panahan, panjat tebing, dan dayung.

Kemungkinan lainnya ada di cabang-cabang non-Olimpiade, seperti bridge, bowling, pencak silat, jet ski, dan wushu.

Namun, bermain di hadapan suporter sendiri selalu bisa menambah semangat bertanding para atlet dan, biasanya, mendongkrak performa mereka. Selain itu, iming-iming bonus sebesar Rp1,5 miliar dari pemerintah untuk setiap perebut emas bisa jadi penambah motivasi.

Beritagar.id tentu takkan melewatkan kesempatan untuk menjadi saksi sejarah perjuangan para atlet Indonesia pada Asian Games ke-18 ini.

Berbagai bentuk liputan telah kami siapkan untuk membantu para pembaca memahami segala peristiwa penting dan bermakna, baik di dalam maupun luar lapangan, selama kompetisi berlangsung.

Semua kami sajikan dalam halaman khusus Asian Games 2018 ini.

Selamat membaca dan, jangan lupa, dukung terus atlet Indonesia.