Republik Dangdut

“Ayo digoyaaang!” Begitu seruan khas pedangdut saat mengajak penonton bergoyang dalam lantunan musik dangdut, apa pun irama gendangnya.

Irama gendang dan cengkok menjadi ciri khas dangdut. Mulanya Orkes Melayu, bercampur dengan India, hingga puncaknya saat Rhoma Irama meleburkannya dengan musik rock pada dekade 70-an. Aliran baru bernama dangdut pun lahir.

Dangdut tidak terbendung setelah era Soneta ini. Berevolusi dengan sentuhan Sunda, Batak, Indonesia bagian tengah dan timur, tarling di pantai utara Jawa (pantura), hingga koplo di Jawa Timur.

Beragam goyangan khas yang menyertai musik pun bermunculan, dari ngebor ala Inul Daratista hingga patah-patah ala Dewi Persik.

Goyangan boleh lain, bahasa dan cengkok berbeda, namun bertemu dalam satu irama: gendang.

Dangdut pun makin dikenal khalayak dengan tampilan kontemporer ala Via Vallen, Nella Kharisma, dan Siti Badriah. Di Pantai Utara Jawa, ada si ratu tarling Diana Sastra. Ada pula pedangdut berbakat beraliran pop Melayu si dede Lesti Andryani.

Tampil di panggung kampung hingga agung, mereka seperti memberi cita rasa identitas dangdut kekinian. Polesan make up dan baju casual pun menjadi cirinya.

Dengan tampilan nyaru, mereka menyatukan gap kaum kelas bawah dan gedongan dalam riuh: “oae oae, hek..aa... hek..aa,” dibarengi dengan gerak tangan mengacung ke atas, sambil menggoyangkan badan, pinggul, dan kaki.

Deretan penghibur kaum nelangsa dan nestapa ini mengajak melupakan derita untuk menjemput kegembiraan bersama.

Selain manggung on air, dunia hiburan ini juga mampu jadi ladang bisnis sampingan buat para pedangdut. Mulai dari rangkaian merchandise hingga undangan privat konglomerat.

Indonesia memang Republik Dangdut. Inilah musik yang didengar di gedongan dan pinggiran, didendangkan di seluruh pelosok negeri. Dangdut pula musik yang bertahan dari perubahan zaman: kreatif dan adaptif.

Dangdut, seperti kata pengamat musik Michael Raditya, menjadi “musik tanpa kelas.” Kalau kata Project Pop, “Dangdut is the music of my country.”

Metodologi

Tim Lokadata Beritagar.id mengumpulkan serpihan sejarah dangdut dari beragam sumber. Seperti buku ‘profesor’ dangdut Andrew Weintraub bertajuk Dangdut: musik, identitas, dan budaya Indonesia dan 100 Tahun Musik Indonesia-nya Denny Sakrie.

Peneliti dangdut Michael Raditya pun kami ajak untuk berbincang dan menyumbangkan tulisan. Arsip musik 1930-1970-an kami dapat dari pengarsip musik Irama Nusantara.

Melalui analisis video YouTube, tim juga melihat bagaimana interaksi panggung dan goyangan keempat penyanyi: Via, Nella, Diana, dan Lesti yang punya popularitas tinggi di Youtube.

Analisis ini terbatas hanya apa yang tampak dalam video saat Nella menyanyikan "Jaran Goyang"; Via berdendang lagu ikoniknya "Sayang"; Diana Sastra dengan lagu andalan "Juragan Empang"; serta Lesti dengan cengkok Melayu menyanyikan "Zapin Melayu".

Material video YouTube dan sampel audio berdurasi satu menit yang bersumber dari Irama Nusantara digunakan hanya untuk pemberitaan semata.

Penanggung Jawab: Yusro M Santoso

Kepala Proyek: Doddy Farhan

Periset dan Pengolah Data: Aghnia Adzkia, Islahuddin, Muhammad Nafi', Ryane Andika Kristianto

Penulis: Aghnia Adzkia, Islahuddin, Indra Wiguna Rosalia, Muhammad Nafi', Ronna Nirmala

Videografer: Andreas Yemmy Martiano

Fotografer: Indra Wiguna Rosalia

Ilustrator: Salny Setyadi

Kreatif: Astari Kusumawardhani, Iyan Kushardiansah

Penyumbang Bahan: Irama Nusantara

Tim Produk: : Abraham Angela, Luluq Miftakhul Huda, Andre Pratama Adiwijaya, Prisca Prisilia, Eka Candra Setyobudi